Monday, May 20, 2013

Perjalanan Nabi Ke SAW ke Taif

Aku Terkesan dengan salah satu kisah nih. Aku rase best kalu aku dahulukan dengan kisah ni dulu.


Abu Nu’aim memberitakan dengan lebih lengkap daripada Urwah bin Az-Zubair ra. katanya: Apabila Abu Thalib meninggal, maka semakin bertambahlah penyiksaan kaum Quraisy ke atas Nabi SAW. Oleh sebab itu baginda berangkat ke Tha’if untuk menemui suku kaum Tsaqif dengan harapan bahwa mereka akan dapat melindunginya dan mempertahankannya. 

Baginda menemui tiga orang dari pemuka suku kaum Tsaqif, dan mereka itu pula adalah bersaudara, yaitu: Abdi Yalel, Kbubaib dan Mas’ud, semua mereka putera-putera dari Amru, lalu Nabi saw menawarkan diri baginda untuk diberikan perlindungan, di samping baginda mengadukan perbuatan jahat kaum Quraisy terhadap diri baginda, dan apa yang ditimpakan ke atas pengikut-pengikutnya. 

Maka berkata salah seorang dari mereka: 
"Aku hendak mencuri kelambu Ka’bah, jika memang benar Allah mengutusmu sesuatu seperti yang engkau katakan tadi?!"

Yang lain pula berkata: "Demi Allah, aku tidak dapat berkata-kata kepadamu, walau satu kalimah sesudah pertemuan ini, sebab jika engkau benar seorang Utusan Allah, nescaya engkau menjadi orang yang tinggi kedudukannya dan besar pangkatnya, tentu tidak boleh aku berbicara lagi kepadamu?!"

Dan yang terakhir pula berkata: "Adakah Allah sampai begitu lemah untuk mengutus orang selain engkau?"

Semua kata-kata pemuka Tsaqif kepada Rasulullah SAW itu tersebar dengan cepat sekali kepada suku kaumnya, lalu mereka pun berkumpul mengejek-ngejek baginda dengan kata-kata itu.

Kemudian ketika baginda hendak pergi meninggalkan Tha’if itu, mereka berbaris di tengah jalannya dua barisan, mereka mengambil batu, lalu melempar kepada baginda, setiap baginda melangkah, batu-batu itu mengenai semua tubuh baginda sehingga luka-luka berdarah sehingga darah itu membasahi capal baginda, 

dan sambil mereka melempar, mereka mengejek dan mencaci. Setelah bebas dari perbuatan suku kaum Tsaqif itu, baginda terlihat sebuah perkebunan anggur yang subur di situ. Lalu baginda berhenti di salah satu pepohonannya untuk beristirahat dan membersihkan darah yang mengalir dari kaki dan tubuhnya yang lain, sedang hatinya sungguh pilu dan menyesal atas perlakuan kaum Tha’if itu.

Bukhari meriwayatkan dari Urwah, bahwa Aisyah ra. isteri Nabi SAW bertanya kepada Nabi SAW katanya: ‘Adakah hari lain yang engkau rasakan lebih berat dari hari di perang Uhud?’ tanya Aisyah ra.

‘Ya, memang banyak perkara berat yang aku tanggung dari kaummu itu, dan yang paling berat ialah apa yang aku temui di hari Aqabah dulu itu. Aku meminta perlindungan diriku kepada putera Abdi Yalel bin Abdi Kilai, tetapi malangnya dia tidak merestui permohonanku!

‘Aku pun pergi dari situ, sedang hatiku sangat sedih, dan mukaku muram sekali, aku terus berjalan dan berjalan, dan aku tidak sadar melainkan sesudah aku sampai di Qarnis-Tsa’alib. Aku pun mengangkat kepalaku, tiba-tiba aku terlihat sekumpulan awan yang telah meneduhkanku, aku lihat lagi, maka aku lihat Malaikat jibril alaihis-salam berada di situ, dia menyeruku: ‘Hai Muhammad! Sesungguhnya Allah telah mendengar apa yang dikatakan kaummu tadi, dan apa yang dijawabnya pula. 

Sekarang Allah telah mengutus kepadamu bersamaku Malaikat yang bertugas menjaga bukit-bukit ini, maka perintahkanlah dia apa yang engkau hendak dan jika engkau ingin dia menghimpitkan kedua-dua bukit Abu Qubais dan Ahmar ini ke atas mereka, niscaya dia akan melakukannya!‘

Dan bersamaan itu pula Malaikat penjaga bukit-bukit itu menyeru namaku, lalu memberi salam kepadaku, katanya: ‘Hai Muhammad!’ Malaikat itu lalu mengatakan kepadaku apa yang dikatakan oleh Malaikat Jibril AS tadi. 

‘Berilah aku perintahmu, jika engkau hendak aku menghimpitkan kedua bukit ini pun niscaya aku akan lakukan!’ 

‘Jangan… jangan! Bahkan aku berharap Allah akan mengeluarkan dari tulang sulbi mereka keturunan yang akan menyembah Allah semata, tidak disekutukanNya dengan apa pun… !’, demikian jawab Nabi SAW.

0 comments:

Post a Comment